Senin, 24 Februari 2014
11 ORANG TERTIMBUN LONGSOR DI JAYAPURA
Hujan deras yang menguyur Kota Jayapura, Papua, sejak Sabtu (22/2/2014) sekitar pukul 18.30 WIT menyebabkan banjir dan longsor di sejumlah kawasan dan 12 orang diduga tertimbun longsor.
Di kawasan Dok V Atas, Distrik Jayapura Utara, ada empat rumah yang tertimpa longsor yang menyebabkan sekitar 11 orang tertimbun. Saat ini baru dua orang yang berhasil ditemukan, salah seorang diantaranya meninggal dunia. “Kami masih berupaya menemukan mereka,”.
Sementara itu hasil pantauan mengungkapkan sejumlah kawasan seperti pusat kota khususnya di seputaran pusat Kota Jayapura yakni di Jl. Sam Ratulangi dan Jl. Ahmad Yani, air setinggi 1 meter. Akibatnya kendaraan baik roda dua dan empat tidak dapat melintasi kawasan didepan gedung DPRP Papua dan disekitar Kantor Asuransi Jiwa Sraya.
“Kami terpaksa berjalan kaki karena motor tidak bisa lewat akibat air mencapai setinggi dada orang dewasa,” aku Marthen yang mengaku tinggal dikawasan Dok IX Kota Jayapura seraya menambahkan motornya terpaksa diparkir dan dititipkan ke rumah temannya di sekitar pelabuhan.
Hujan deras yang menguyur kota Jayapura dilaporkan juga menyebabkan satu unit rumah di kawasan Kloofkamp hanyut, namun tidak ada korban jiwa. Hingga berita ini diturunkan air sudah mulai surut sehingga menimbulkan antrean kendaraan di ruas jalan depan Mapolda Papua di Jayapura, khususnya arah keluar menuju kota.
Hujan deras deras pada Sabtu (22/2) malam telah menyebabkan banjir yang disusul longsor pada pukul 19.00 Wit di Kota Jayapura Provinsi Papua. Longsor terjadi di 3 lokasi yaitu di Distrik Jayapura Utara, Distrik Abepura, dan Distrik Jayapura Selatan.
*Korban Jiwa :
- 11 orang meninggal dunia
- 2 orang dalam pencarian
*Kerugian Materil :
- 15 unit rumah rusak berat
- 40 unit rumah rusak ringan
Kebutuhan Mendesak : - Peralatan pembersihan lumpur seperti :
-Truk, gerobak, cangkul, linggis, dll
- Uang duka bagi korban meninggal
- Bantuan pembangunan rumah yang hancur
*Kendala : Keterbatasan Dana
*Kronologis :
Hujan deras dari pkl 18.30 Wit mengakibatkan banjir bandang yang membawa matrial berat dan menghantam rumah penduduk. Banjir bandang berasal dari Sungai ATO, Sungai Anapri, dan Sungai STM.
*Upaya :
- BPBD Kota Jayapura, TNI, Polri, Basarnas dan relawan sedang melakukan evakuasi dan pendataan menggunakan peralatan seadanya.
- Pemberian logistik pengungsi dan petugas
- Membuka akses jalan dan pembersihan.
Info lanjut : Bernard Lamia (Kepala BPBD Kota Jayapura) 081232660062
Rabu, 08 Januari 2014
RAKERNIS BPBD KAB/KOTA SE- PROVINSI PAPUA.TANGGAL 6 S/D 8 MEI 2013
Sabtu, 04 Januari 2014
SIMULASI PENGURANGAN RESIKO BENCANA SMK N 4 KOYA BARAT
dan dari simulasi yang dilaksanakan berjalan sangat baik dimana peran serta siswa dan pendamping sangat giat hingga selesainya kegiatan simulasi pada pukul 16.45 Wit.
"Mengapa kita harus tangguh menghadapi cobaan,
sebab cobaan itu bagian dari hidup kita dan ada kebaikan dari cobaan tersebut.
Kita tidak bisa menghindari cobaan selama hidup ini. Maka daripada kita
menghindari cobaan, maka langlah yang benar adalah membina diri untuk menjadi
pribadi yang tangguh dalam menghadapi cobaan."
(Tim Pendamping : Frans Salosa, Rony Enoc, Dafit, Alfons, Yunus Ayomi, Yance Mao, Yusak Krey, Gerat Waimbo)
Kamis, 02 Januari 2014
KEDIAMAN MAMA EMA SALOSSA TERBAKAR
Warga
di Kotaraja dan sekitarnya pada Sabtu (28/12) pagi sekira pukul 09.00 WIT
dikejutkan dengan adanya kebakaran yang melanda rumah bertingkat atau lantai II
di Kompleks Pemda IV, tepatnya rumah No A3 yang merupakan kediaman milik mantan
Gubernur Papua alm. Dr. Jacobus Perviddya Solossa,M.Si atau lebih
dikenal dengan panggilan J.P. Solossa atau Jaap Solossa yang didiami oleh istri
dan anaknya.
Akibat
kebakaran ini, seluruh bangunan lantai 2 ludes dilahap si Jago Merah. Namun
untungnya, dalam kebakaran ini tidak mengakibatkan adanya korban jiwa.
Berdasarkan informasi kebakaran itu diduga kuat akibat korsleting listrik pada
salah satu kamar di lantai dua rumah tersebut. Mama Emma Solossa terlihat shock. Dirinya
mengaku masih dalam keadaan terlelap dan api tiba-tiba sudah membakar lantai
atas rumahnya. Para tetanggapun membantu membangunkan dan memberikan
pertolongan dengan mengangkut barang-barang miliknya keluar rumah. Meski
begitu, kerugian materiil ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
Salah
satu tetangga korban, Agustina Wanane mengatakan dirinya melihat api saat dirinya
akan tiba di rumah setelah sebelumnya keluar untuk fotokopi berkas. Saat itu
pula tubuhnya terasa kaku, karena dirinya menduga bahwa asap yang membumbung
tinggi itu berasal dari rumahnya. Namun ketika tiba di rumahnya yang sebelumnya
dalam keadaan terkunci, ternyata sudah terbuka dan hampir seluruh isi rumahnya
sudah dibawa keluar rumah dengan dibantu warga. Hanya tembok itu yang
menghalangi rumah saya dan rumah korban, saya takut api akan terus merambah.
Ketika datang sudah ternyata sudah diamankan oleh masyarakat sekitar, padahal
baru 15 menit yang lalu saya tinggalkan rumah.
Api
yang melahap lantai 2 itu terus membesar. Tak berapa lama kemudian, bagian atas
lantai 2 itu pun ambruk setelah dimakan di Jago Merah. Mobil pemadam kebakaran
yang datang setelah bagian atap itu ambruk merasa kesulitan untuk memadamkan
api karena terhalang bagian rumah depan yang tidak bertingkat. Sementara lewat
bagian belakang rumah pun tidak bisa tembus karena terhalang rumah-rumah warga
lainnya. Kami menurunkan 4 mobil unit Damkar, dan di backup oleh satu unit
water canon dari Brimob Polda Papua,” ucap Kabid Damkar Kota Jayapura Andy Isak
Terru.
Diakuinya,
kebakaran tidak berlangsung lama, dan dari musibah itu 2 kamar habis terbakar
dan hanya pada lantai dua, tidak sampai merambah ke tetangga, apalagi lantai
satu kediaman JP Solossa itu. Sementara itu, Kapolsek Abepura Kota, Kompol
Decky Hursepuny melalui Kanit Reskrim Polsek Abepura Kota, Iptu Subur Hartono
mengatakan bahwa kebakaran yang terjadi di Kediamaan Alm JP Solossa diduga
karena korsleting.
HUJAN 4 JAM ENTROP BANJIR DAN 2 ORANG TEWAS
Hujan deras yang mengguyur Kota Jayapura menjelang malam pergantian tahun mengakibatkan banjir di sekitar kawasan Entrop dan pusat Kota Jayapura, Selasa (31/12). Hujan yang turun sejak sore hari dan berlangsung sekitar empat jam tersebut membuat air di Kali Entrop meluap dan melintas di atas jembatan serta menggenangi Jalan Raya Abepura-Entrop hingga di depan Kompleks Assalam, Entrop. Selain itu, banjir juga terlihat terjadi di beberapa titik di sekitar Entrop seperti PTC dan daerah pertokoan di samping Balai Wartawan. Banjir yang terjadi di sekitar kawasan Entrop ini mengakibatkan terjadinya antrian panjang kendaraan baik dari arah Jayapura maupun dari arah Hamadi. Pasalnya kendaraan tidak dapat melintas di Jembatan Entrop yang tergenang air hingga pinggang orang dewasa dan arus air sangat kencang. Kendaraan mulai dapat melintas di jembatan tersebut setelah air mulai agak surut sekitar pukul 20.00 WIT. Meskipun demikian beberapa kendaraan sempat mengalami kesulitan saat melintas di jembatan akibat derasnya air. Genangan air juga terjadi di sekitar daerah PTC Entrop akibat meluapnya kali yang berada di samping Mapolsek Japsel. Air bercampur lumpur tersebut tidak hanya menggenangi Mapolsek Japsel dan Koramil, tetapi juga dalam kawasan PTC. Akibat genangan air tersebut, aparat Polsek Japsel terpaksa menutup jalur jalan di depan PTC. Jalan depan PTC terpaksa kami tutup karena genangan air cukup tinggi sehingga sulit dilalui kendaraan. Namun penutupan jalan ini sufatnya sementara, menunggu air surut, ungkap Kapolsek Japsel, Kompol Y. Takamully, SH, MH, Selain di kawasan Entrop, genangan air juga terjadi di Jalan Ahmad Yani tepatnya di depan gedung Bank Papua. Banjir yang seringkali terjadi di Jalan Raya Abepura-Entrop akibat meluapnya Kali Entrop maupun di pusat kota diharapkan menjadi perhatian Pemprov Papua dan Pemkot Jayapura.


Senin, 24 Juni 2013
KORBAN BANJIR ORGANDA & KONYA DAPAT 1200 BANTUAN
Sekitar 1200 KK (kepala keluarga) korban banjir di daerah Perumahan
BTN Organda Distrik Heram dan Konya (Kolam nyamuk.red) Distrik Abepura
akhirnya mendapat bantuan dari pemerintah daerah Provinsi Papua.
“Penyerahan bantuan ini sebagai bukti perpanjangan dari tanggap bencana yang diminta walikota Jayapura kepada kami, BPBD Provinsi Papua hal ini memang lumrah dan wajar jika Kepala Pemerintah Kota Jayapura mengajukan perpanjangan tanggap bencana dimana kedua daerah ini sudah empat kalinya menjadi korban banjir secara sporadis,” tegas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Papua, Didi Agus Prihatno Sela acara pemberian bantuan Senin (17/6)
Menurutnya dari data awal yang diperoleh pihak BPBD dari kelurahan kurang lebih ada 1023 orang yang terkena dampak banjir di dua tempat tersebut, akan tetapi kami siapkan kurang lebih 1200 paket agar pelaksanaannya lebih teratur. “Kami harap pembagiannya akan adil dan masyarakat tidak kurang,” ujar Didi.
Ke 1200 paket Bantuan yang diterima korban antara lain ini berisi bahan makanan sembako dan pakaian layak pakai dan seragam sekolah serta tikar. “Dan bantuan tersebut senilai 1 miliar rupiah,” tegas Didi.
Adanya permintaan bantuan fresh money dari Walikota Jayapura sebagai bentuk penanggulangan bencana di Kota Jayapura, Didi berharap agar pemerintah Kota mengajukannya kepada pemerintah Daerah Provinsi Papua.
Senada dengan hal tersebut, Assiten Dua Setda Papua yang juga Ketua Pelaksana harian BPBD Papua, Elia Loupatty berharap walikota Jayapura untuk menulis surat kepada Gubenur Papua guna bisa membicarakan hal ini secara langsung.
Selain itu, Lopuatty berharap hendaknya masyarakat membangun komunikasi dengan pemerintah daerah setempat untuk adanya sinergitas penanganan kebencanaan yang terjadi di Kota Jayapura.” Selaku pemegang KTP Jayapura, saya juga sering memberikan masukan dan sms kepada pemerintah kota agar adanya penanggulangan secara cepat.” tutur Loupatty
Bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN) melalui Pemerintah Provinsi Papua ini langsung diserahkan langsung kepada Pemerintah Kota Jayapura, dan Bantuan tersebut, langsung diserahkan kepada para korban banjir di dua distrik yang terkena dampak parah atas banjir.
Sementara itu, Walikota Jayapura, Benhur Tommy Mano meminta maaf atas lambannya proses tanggap bencana di Kota Jayapura akibat lambannya birokrasi dibawahnya untuk segera merencanakan dan mengatasi masalah banjir.
“Saya berharap agar kedepan, adanya penanganan permasalahan banjir, tanah longsor dan penataan lingkungan di Kota Jayapura ikut menjadi program seratus hari pak gubernur. Meskipun upaya jangka pendek telah kami lakukan kerjasama di semua sector seperti PU Provinsi dan Balai jalan dan Jemabatan untuk ikut mengatasi hal tersebut,” tegas Mano \
Dalam kesempatan ini, Walikota juga didaulat untuk menyerahkan secara simbolis paket bantuan kepada masyarakat meski masih besok dalam pembagiannya.
“Penyerahan bantuan ini sebagai bukti perpanjangan dari tanggap bencana yang diminta walikota Jayapura kepada kami, BPBD Provinsi Papua hal ini memang lumrah dan wajar jika Kepala Pemerintah Kota Jayapura mengajukan perpanjangan tanggap bencana dimana kedua daerah ini sudah empat kalinya menjadi korban banjir secara sporadis,” tegas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Papua, Didi Agus Prihatno Sela acara pemberian bantuan Senin (17/6)
Menurutnya dari data awal yang diperoleh pihak BPBD dari kelurahan kurang lebih ada 1023 orang yang terkena dampak banjir di dua tempat tersebut, akan tetapi kami siapkan kurang lebih 1200 paket agar pelaksanaannya lebih teratur. “Kami harap pembagiannya akan adil dan masyarakat tidak kurang,” ujar Didi.
Ke 1200 paket Bantuan yang diterima korban antara lain ini berisi bahan makanan sembako dan pakaian layak pakai dan seragam sekolah serta tikar. “Dan bantuan tersebut senilai 1 miliar rupiah,” tegas Didi.
Adanya permintaan bantuan fresh money dari Walikota Jayapura sebagai bentuk penanggulangan bencana di Kota Jayapura, Didi berharap agar pemerintah Kota mengajukannya kepada pemerintah Daerah Provinsi Papua.
Senada dengan hal tersebut, Assiten Dua Setda Papua yang juga Ketua Pelaksana harian BPBD Papua, Elia Loupatty berharap walikota Jayapura untuk menulis surat kepada Gubenur Papua guna bisa membicarakan hal ini secara langsung.
Selain itu, Lopuatty berharap hendaknya masyarakat membangun komunikasi dengan pemerintah daerah setempat untuk adanya sinergitas penanganan kebencanaan yang terjadi di Kota Jayapura.” Selaku pemegang KTP Jayapura, saya juga sering memberikan masukan dan sms kepada pemerintah kota agar adanya penanggulangan secara cepat.” tutur Loupatty
Bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN) melalui Pemerintah Provinsi Papua ini langsung diserahkan langsung kepada Pemerintah Kota Jayapura, dan Bantuan tersebut, langsung diserahkan kepada para korban banjir di dua distrik yang terkena dampak parah atas banjir.
Sementara itu, Walikota Jayapura, Benhur Tommy Mano meminta maaf atas lambannya proses tanggap bencana di Kota Jayapura akibat lambannya birokrasi dibawahnya untuk segera merencanakan dan mengatasi masalah banjir.
“Saya berharap agar kedepan, adanya penanganan permasalahan banjir, tanah longsor dan penataan lingkungan di Kota Jayapura ikut menjadi program seratus hari pak gubernur. Meskipun upaya jangka pendek telah kami lakukan kerjasama di semua sector seperti PU Provinsi dan Balai jalan dan Jemabatan untuk ikut mengatasi hal tersebut,” tegas Mano \
Dalam kesempatan ini, Walikota juga didaulat untuk menyerahkan secara simbolis paket bantuan kepada masyarakat meski masih besok dalam pembagiannya.
Minggu, 24 Maret 2013
YOKA TERENDAM LUAPAN AIR DANAU
Hingga kemarin, permukaan air di Danau Sentani belum juga
memperlihatkan tanda-tanda akan surut. Akibatnya sejumlah rumah warga di
Kampung Yoka dan Kelurahan Waena, Distrik Heram masih terendam air yang
meluap dari Danau Sentani.
Terkait kondisi ini, Ketua Komisi B DPRD Kota Jayapura, Ahmad Jaenuri, LC., MH., mengharapkan Pemkot Jayapura melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Kesejahteraan Sosial untuk segera melakukan upaya penangganan tanggap darurat.
Menurut Ahmad Jaenuri, dari hasil peninjaunnya bersama beberapa anggota DPRD Kota Jayapura, puluhan kepala keluarga yang rumahnya terendam luapan air Danau Sentani sudah mengungsi ke rumah warga. Namun warga yang rumahnya terendam air dan mengungsi ini menurut Jaenuri hingga kemarin belum mendapat bantuan.
“Tadi siang (kemarin, Red) ketika kami meninjau lokasi yang terendam air serta penjelasan dari Lurah Waena, terendamnya pemukiman warga akibat luapan air Danau Sentani sudah berlangsung empat hari. Namun sampai sekarang belum ada bantuan dari pemerintah,”ungkapnya , Selasa (5/3).
Terkait dengan kondisi ini, Ahmad Jaenuri mengharapkan instansi teknis terkait segera turun lapangan untuk melihat langsung kondisi yang dialami warga dan mengambil langkah-langkah untuk membantu warga. “Ini sangat ironis, rumah mereka sudah terendam selama 4 hari, namun belum ada bantuan dari pemerintah,” tuturnya.
Sementara itu, beberapa warga di Kampung Yoka dan Kelurahan Waena yang ditemui mengatakan, hingga saat ini mereka masih was-was dengan kondisi permukaan air Danau Sentani yang belum juga surut. Warga mengaku khawatir air Danau Sentani masih akan naik, sehingga mereka memilih mengungsi ke rumah warga yang tidak terkena dampak luapan Danau Sentani.
Secara terpisah Kepala Dinas Pertanian Kota Jayapura, Jean Rollo mengatakan, hujan deras yang mengguyur Kota Jayapura dan menyebabkan banjir di sejumlah lokasi akhir-akhir ini, juga merusak lahan pertanian masyarakat di Distrik Muara Tami.
Banjir yang menggenangi lahan petani di Distrik Muara Tami menurut Jean Rollo mengakibatkan tanaman masyarakat seperti sayur-sayuran dan umbi-umbian rusak. Kondisi ini mengakibatkan pasokan sayur-sayuran ke Kota Jayapura mengalami kendala.
“Banyak lahan pertanian yang tergenang, sehingga produksi pertanian seperti sayur-sayuran juga terganggu. Hal ini mengakibatkan pasokan sayur-sayuran ke Kota Jayapura juga terganggu dan harga sayuran lokal juga naik,” ungkapnya.
Terkait kondisi ini, Jean Rollo mengatakan pihaknya terus memantau kondisi lahan pertanian yang terendam banjir. Disamping itu, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan BMKG untuk mendapatkan informasi mengenai situasi curah hujan di Kota Jayapura dan sekitarnya dalam beberapa hari kedepan.
“Informasi cuaca ini akan kami sampaikan ke petani agar mereka bisa segera mengatur pola tanam dengan menanam tanaman yang cepat berproduksi. Sehingga pasokan sayur-sayuran ke Kota Jayapura tidak teranggung,” tambahnya.
Terkait kondisi ini, Ketua Komisi B DPRD Kota Jayapura, Ahmad Jaenuri, LC., MH., mengharapkan Pemkot Jayapura melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Kesejahteraan Sosial untuk segera melakukan upaya penangganan tanggap darurat.
Menurut Ahmad Jaenuri, dari hasil peninjaunnya bersama beberapa anggota DPRD Kota Jayapura, puluhan kepala keluarga yang rumahnya terendam luapan air Danau Sentani sudah mengungsi ke rumah warga. Namun warga yang rumahnya terendam air dan mengungsi ini menurut Jaenuri hingga kemarin belum mendapat bantuan.
“Tadi siang (kemarin, Red) ketika kami meninjau lokasi yang terendam air serta penjelasan dari Lurah Waena, terendamnya pemukiman warga akibat luapan air Danau Sentani sudah berlangsung empat hari. Namun sampai sekarang belum ada bantuan dari pemerintah,”ungkapnya , Selasa (5/3).
Terkait dengan kondisi ini, Ahmad Jaenuri mengharapkan instansi teknis terkait segera turun lapangan untuk melihat langsung kondisi yang dialami warga dan mengambil langkah-langkah untuk membantu warga. “Ini sangat ironis, rumah mereka sudah terendam selama 4 hari, namun belum ada bantuan dari pemerintah,” tuturnya.
Sementara itu, beberapa warga di Kampung Yoka dan Kelurahan Waena yang ditemui mengatakan, hingga saat ini mereka masih was-was dengan kondisi permukaan air Danau Sentani yang belum juga surut. Warga mengaku khawatir air Danau Sentani masih akan naik, sehingga mereka memilih mengungsi ke rumah warga yang tidak terkena dampak luapan Danau Sentani.
Secara terpisah Kepala Dinas Pertanian Kota Jayapura, Jean Rollo mengatakan, hujan deras yang mengguyur Kota Jayapura dan menyebabkan banjir di sejumlah lokasi akhir-akhir ini, juga merusak lahan pertanian masyarakat di Distrik Muara Tami.
Banjir yang menggenangi lahan petani di Distrik Muara Tami menurut Jean Rollo mengakibatkan tanaman masyarakat seperti sayur-sayuran dan umbi-umbian rusak. Kondisi ini mengakibatkan pasokan sayur-sayuran ke Kota Jayapura mengalami kendala.
“Banyak lahan pertanian yang tergenang, sehingga produksi pertanian seperti sayur-sayuran juga terganggu. Hal ini mengakibatkan pasokan sayur-sayuran ke Kota Jayapura juga terganggu dan harga sayuran lokal juga naik,” ungkapnya.
Terkait kondisi ini, Jean Rollo mengatakan pihaknya terus memantau kondisi lahan pertanian yang terendam banjir. Disamping itu, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan BMKG untuk mendapatkan informasi mengenai situasi curah hujan di Kota Jayapura dan sekitarnya dalam beberapa hari kedepan.
“Informasi cuaca ini akan kami sampaikan ke petani agar mereka bisa segera mengatur pola tanam dengan menanam tanaman yang cepat berproduksi. Sehingga pasokan sayur-sayuran ke Kota Jayapura tidak teranggung,” tambahnya.
Langganan:
Postingan (Atom)